Kamis, 30 Mei 2013

Resensi Novel Seven Days

Ghina Zakia Nurjaman


Oleh                      : Ghina Zakia Nurjaman
Judul Resensi     : Pada Akhirnya Hiduplah yang Mengharuskan Memilih
Judul Novel        : Seven Days Tujuh Hari Bersamamu
Pengarang          : Rhein Fathia
Penerbit              : PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit      : Februari, 2013
Tebal                     : 294 Halaman
ISBN                      : 978-602-9225-72-3
Genre                   : Romance
Kategori               : Fiksi
Harga                    : Rp 49.000,-


               Resensi Novel Seven Days tujuh hari bersamamu karya Rhein Fathia ini merupakan novel yang menceritakan kisah seorang gadis berumur 25 tahun yang terjebak dalam cinta segitiga. Novel ini ialah novel pemenang pertama dalam lomba penulisan Romance Qanita.
                Alnilam Rahma Soeminta yang kerap kali disapa Nilam oleh sahabat kecilnya Shen Luthfi Ardiwinata, ialah gadis berumur 25 tahun yang bekerja disebuah perusahaan desain sedangkan Shen sendiri bekerja disebuah proyek arsitektur. Mereka berdua merupakan sahabat sejak kecil dan keduanya mempunyai kesamaan yaitu pecinta lukisan dan langit. Bahkan, nama mereka itu diambil dari sebuah rasi bintang Orion.
                Karena hubungan keduanya yang begitu dekat, Nilam selalu mengikutsertakan Shen dalam setiap langkah hidupnya, termasuk dalam urusan cinta. Shen paling tahu pria-pria mana yang pernah mampir dalam hidup Nilam termasuk pria pemilik nama Reza yang saat ini tengah menjadi kekasih Nilam, bahkan telah melamarnya namun Nilam belum juga memberinya jawaban.
                Untuk ukuran seorang kekasih, Reza merupakan sosok yang teramat ideal. Tampan, sopan, pekerja keras, sabar dan tidak posesif. Hal inilah yang membuat Nilam luluh dan jatuh cinta padanya. Walaupun hubungan keduanya terhalang jarak yang cukup jauh, namun dengan menjaga kepercayaan dan kesetiaan, hubungan mereka berjalan baik selama kurang lebih 3 tahun lamanya.
                “Kita ke Bali bulan depan, gimana?” Nilam mendongak, menatap sepasang mata berbinar milik Shen yang duduk dihadapannya sambil mengunyah siomay sebagai camilan sore hari. Ajakan sahabat kecilnya itu membuat Nilam bingung, ditambah lagi Shen yang menatapnya serius dan berkata “Kita ke Bali berdua saja, selama satu minggu. Anggap aja ini acara jalan-jalan terakhir kita berdua sebelum kamu dimiliki sepenuhnya oleh Reza.” Dia diam sejenak memberi jeda. “Aku berharap, disana kita juga bisa mengambil keputusan tepat mengenai perasaan masing-masing.”
                Malam ini Shen dan Nilam tengah sibuk berkemas untuk keberangkatan keduanya ke Pulau Dewata setelah urusan booking tiket, izin ke Ayah dan Ibu, pesan kendaraan selama di Bali termasuk izin dari Reza, sudah ditangani oleh Shen selama satu bulan belakangan ini.
                Waktu menunjukkan pukul 12 malam waktu Bali. Pertama kalinya menjejakkan kaki di Bandara Ngurah Rai membuat Nilam takjub dan senang bukan main. Ketika itu juga Shen mengajaknya ke penginapan yang sudah dipesan beberapa hari yang lalu. Namun, detik itu juga masalah mulai muncul ketika kamar yang tersisa hanya satu. Shen mendesah pelan sembari memasang raut wajah kesal dan rasa bersalah ketika sahabat cantiknya itu mengernyitkan kening heran. Alhasil, malam itu juga mereka tidur satu kamar yang kebetulan kasurnya ada dua dan terpisah.
                Tidur satu kamar dengan Shen sudah sering mereka lakukan, dulu. Kini keduanya sudah dewasa. Apa kata Ayah dan Ibu nanti? Bagaimana kalau Reza tahu? Stereotip “gadis nakal” pasti melekat padaku nantinya, meski kami berdua tidak melakukan apa-apa. Baru sampai di Bali saja sudah muncul aroma perselingkuhan, pikirnya.
                “Masalah apalagi yang akan menimpa keduanya? Ataukah perjalanan mereka membuahkan kenangan yang membekas? Dan apa maksud Shen mengajak sahabat kecilnya ke Pulau Dewata? Hmm kira-kira, akhirnya Nilam memilih siapa yah?” Rasanya saya tidak perlu membeberkan semua jalan ceritanya disini, karena lebih asik, lebih menengangkan dan bahkan menyedihkan jika kita membacanya sendiri, halaman demi halaman.
                Dalam novelnya ini Rhein menyuguhkan berbagai bumbu pelengkap sehingga pembaca tidak jenuh dan dibuat penasaran untuk membuka lembaran lembaran selanjutnya. Rhein juga menggambarkan latar dan tokohnya seolah-olah kejadian tersebut merupakan pengalamannya sendiri. Novel yang bertemakan cinta ini sangat cocok dibaca oleh kalangan remaja. Selain itu novel ini memberi gambaran bagaimana keadaan Pulau Dewata yang sangat indah dengan penduduknya yang ramah dan sangat menghormati adat yang berlaku.

"Sering kali kita dibuat bimbang oleh pertanyaan, siapa yang kita cintai sebenarnya? sosok yang selalu hadir menemani atau sejatinya dipilih oleh hati? bagiku, keduanya tetap cinta. Cinta tidak pernah memaksa kita untuk memilih, hiduplah yang mengharuskan untuk memilih. Termasuk memilih, kita ingin hidup dengan siapa." - Nilam

Catatan ini diikutsertakan dalam http://www.rheinfathia.com/2013/05/lomba-menulis-resensi-fanfiction.html

2 komentar:

  1. Selamat ya udah terpilih jadi pemenangnya :)
    Kalo novel yg ini saya belum baca :D

    BalasHapus
  2. Makasih mbak :)
    Ayoo baca, novel yg ini juga gak kalah seru hehe

    BalasHapus