![]() |
| Ghina Zakia Nurjaman |
Oleh :
Ghina Zakia Nurjaman
Judul Resensi :
Pada Akhirnya Hiduplah yang Mengharuskan Memilih
Judul Novel :
Seven Days Tujuh Hari Bersamamu
Pengarang :
Rhein Fathia
Penerbit :
PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit :
Februari, 2013
Tebal :
294 Halaman
ISBN :
978-602-9225-72-3
Genre :
Romance
Kategori :
Fiksi
Harga :
Rp 49.000,-
Resensi Novel Seven Days tujuh hari
bersamamu karya Rhein Fathia ini merupakan novel yang menceritakan kisah
seorang gadis berumur 25 tahun yang terjebak dalam cinta segitiga. Novel ini
ialah novel pemenang pertama dalam lomba penulisan Romance Qanita.
Alnilam
Rahma Soeminta yang kerap kali disapa Nilam oleh sahabat kecilnya Shen Luthfi
Ardiwinata, ialah gadis berumur 25 tahun yang bekerja disebuah perusahaan
desain sedangkan Shen sendiri bekerja disebuah proyek arsitektur. Mereka berdua
merupakan sahabat sejak kecil dan keduanya mempunyai kesamaan yaitu pecinta
lukisan dan langit. Bahkan, nama mereka itu diambil dari sebuah rasi bintang
Orion.
Karena
hubungan keduanya yang begitu dekat, Nilam selalu mengikutsertakan Shen dalam
setiap langkah hidupnya, termasuk dalam urusan cinta. Shen paling tahu
pria-pria mana yang pernah mampir dalam hidup Nilam termasuk pria pemilik nama
Reza yang saat ini tengah menjadi kekasih Nilam, bahkan telah melamarnya namun
Nilam belum juga memberinya jawaban.
Untuk
ukuran seorang kekasih, Reza merupakan sosok yang teramat ideal. Tampan, sopan,
pekerja keras, sabar dan tidak posesif. Hal inilah yang membuat Nilam luluh dan
jatuh cinta padanya. Walaupun hubungan keduanya terhalang jarak yang cukup
jauh, namun dengan menjaga kepercayaan dan kesetiaan, hubungan mereka berjalan
baik selama kurang lebih 3 tahun lamanya.
“Kita
ke Bali bulan depan, gimana?” Nilam mendongak, menatap sepasang mata berbinar
milik Shen yang duduk dihadapannya sambil mengunyah siomay sebagai camilan sore
hari. Ajakan sahabat kecilnya itu membuat Nilam bingung, ditambah lagi Shen
yang menatapnya serius dan berkata “Kita ke Bali berdua saja, selama satu
minggu. Anggap aja ini acara jalan-jalan terakhir kita berdua sebelum kamu
dimiliki sepenuhnya oleh Reza.” Dia diam sejenak memberi jeda. “Aku berharap,
disana kita juga bisa mengambil keputusan tepat mengenai perasaan
masing-masing.”
Malam
ini Shen dan Nilam tengah sibuk berkemas untuk keberangkatan keduanya ke Pulau
Dewata setelah urusan booking tiket,
izin ke Ayah dan Ibu, pesan kendaraan selama di Bali termasuk izin dari Reza,
sudah ditangani oleh Shen selama satu bulan belakangan ini.
Waktu
menunjukkan pukul 12 malam waktu Bali. Pertama kalinya menjejakkan kaki di
Bandara Ngurah Rai membuat Nilam takjub dan senang bukan main. Ketika itu juga
Shen mengajaknya ke penginapan yang sudah dipesan beberapa hari yang lalu.
Namun, detik itu juga masalah mulai muncul ketika kamar yang tersisa hanya
satu. Shen mendesah pelan sembari memasang raut wajah kesal dan rasa bersalah
ketika sahabat cantiknya itu mengernyitkan kening heran. Alhasil, malam itu
juga mereka tidur satu kamar yang kebetulan kasurnya ada dua dan terpisah.
Tidur
satu kamar dengan Shen sudah sering mereka lakukan, dulu. Kini keduanya sudah
dewasa. Apa kata Ayah dan Ibu nanti?
Bagaimana kalau Reza tahu? Stereotip “gadis nakal” pasti melekat padaku
nantinya, meski kami berdua tidak melakukan apa-apa. Baru sampai di Bali saja sudah muncul aroma perselingkuhan, pikirnya.
“Masalah
apalagi yang akan menimpa keduanya? Ataukah perjalanan mereka membuahkan
kenangan yang membekas? Dan apa maksud Shen mengajak sahabat kecilnya ke Pulau
Dewata? Hmm kira-kira, akhirnya Nilam memilih siapa yah?” Rasanya saya tidak
perlu membeberkan semua jalan ceritanya disini, karena lebih asik, lebih menengangkan
dan bahkan menyedihkan jika kita membacanya sendiri, halaman demi halaman.
Dalam
novelnya ini Rhein menyuguhkan berbagai bumbu pelengkap sehingga pembaca tidak
jenuh dan dibuat penasaran untuk membuka lembaran lembaran selanjutnya. Rhein
juga menggambarkan latar dan tokohnya seolah-olah kejadian tersebut merupakan
pengalamannya sendiri. Novel yang bertemakan cinta ini sangat cocok dibaca oleh
kalangan remaja. Selain itu novel ini memberi gambaran bagaimana keadaan Pulau
Dewata yang sangat indah dengan penduduknya yang ramah dan sangat menghormati
adat yang berlaku.
"Sering kali kita dibuat bimbang oleh pertanyaan, siapa yang kita cintai sebenarnya? sosok yang selalu hadir menemani atau sejatinya dipilih oleh hati? bagiku, keduanya tetap cinta. Cinta tidak pernah memaksa kita untuk memilih, hiduplah yang mengharuskan untuk memilih. Termasuk memilih, kita ingin hidup dengan siapa." - Nilam
Catatan ini diikutsertakan dalam http://www.rheinfathia.com/2013/05/lomba-menulis-resensi-fanfiction.html
"Sering kali kita dibuat bimbang oleh pertanyaan, siapa yang kita cintai sebenarnya? sosok yang selalu hadir menemani atau sejatinya dipilih oleh hati? bagiku, keduanya tetap cinta. Cinta tidak pernah memaksa kita untuk memilih, hiduplah yang mengharuskan untuk memilih. Termasuk memilih, kita ingin hidup dengan siapa." - Nilam
Catatan ini diikutsertakan dalam http://www.rheinfathia.com/2013/05/lomba-menulis-resensi-fanfiction.html

Selamat ya udah terpilih jadi pemenangnya :)
BalasHapusKalo novel yg ini saya belum baca :D
Makasih mbak :)
BalasHapusAyoo baca, novel yg ini juga gak kalah seru hehe