Rabu, 26 Juni 2013

Lomba Menulis Antologi Cerpen "Kisah Cinta Remaja" By PENERBIT MAYOR (DL: 30 Juni 2013)

Syarat dan Ketentuan:
1. Kompetisi ini terbuka untuk semua orang.
2. Naskah asli, tidak menyadur dan belum pernah dipublikasikan di media apapun.
3. Format penulisan: 5-10 halaman. Spasi 1,5, Times New Roman 12, A4. Margin 3-3-3-3. File: .doc atau .docx.
4. Tema : Kisah Cinta Remaja 
5. Boleh mengirimkan naskah lebih dari satu.
6. EYD sangat diutamakan. Juga diharapkan agar cerita tidak klise.
7. Tulis biodata di bawah naskah berupa: 
Nama Lengkap:
Nama Pena (bila perlu):
Facebook:
Email:
Alamat Lengkap:
Nomer Telepon : 
8. Kirim naskahmu ke coauthorsind@gmail.com. 
9. Format subject email dan file: (JUDUL NASKAH) - (NAMA PESERTA) 
10. Naskah paling lambat diterima pada tanggal 30 Juni 2013 pukul 23:59 WIB. 

Kami akan memilih 15 naskah terbaik untuk diproses menuju penerbit Mayor. Pengumuman pemenang pada tanggal 28 Juli 2013. Peserta diharapkan memfollow atau mengikuti blog Community of Authors Indonesian (coauthorsindo.blogspot.com), dan menyebarkan luaskan info seleksi ini.Masing-masing pemenang akan mendapat bukti terbit, dll.

Kamis, 30 Mei 2013

Fan Fiction Novel Seven Days

 
                “Selamat pagi sayang..” sambutku ketika Shen baru saja beranjak dari tempat tidur. Ya, seminggu yang lalu aku dan Shen terbang ke Eropa setelah semua acara pernikahan kami berjalan lancar dengan konsep yang tidak terlalu mewah sehingga terkesan elegan. Aku yang waktu itu memakai kebaya putih dengan rambut tersanggul rapi, berdiri disamping Shen menyambut ramah tamu yang terus berdatangan mengucap selamat kepada kami. Diantara beratus-ratus bahkan sampai beribu tamu yang datang, mulai dari temanku, teman-teman Shen dan teman-teman kedua orangtua kami, ada tamu spesial yang tidak ku duga sebelumnya. Reza menghadiri acara pernikahanku, ia menggandeng seorang wanita cantik yang tidak lain ialah kekasih barunya setelah hubungan kami berakhir 6 bulan silam.
                Sembari tersenyum lebar, Reza menyalamiku dan mengucapkan selamat kepada kami. Sementara kekasihnya hanya melirikku tanpa memberi salam bahkan tak terlihat seulas senyum diwajahnya. Sombong sekali pacar barunya ini, ucapku dalam hati.
                “Selamat menempuh hidup baru ya Nilam, semoga hubungan kalian langgeng. Doakan aku cepet nyusul yaa hehehe” ucapnya sembari tertawa kecil “aku senang melihatmu bahagia Nilam” lanjutnya lirih. Aku dan Shen segera mengamininya, kemudian Shen mengajak kami berempat untuk mencicipi makanan. Sambil mengunyah sesuap nasi, kami berbagi cerita dengan penuh tawa bahagia. Jika waktu itu aku gak berangkat ke Bali bareng Shen, mungkin pria yang bersandang denganku dipelaminan ialah sosok pria yang kini tepat dihadapanku. Maafin aku Za! Pikirku tak karuan.
                                                                              ***
                “Sayang, aku berangkat duluan yaa, kayaknya hari ini aku pulang agak telat. Kalau mau keluar rumah, jangan lupa kabarin aku yah!” ucap Shen sembari mencium keningku. Aku yang tengah duduk ditepi kasur mengangguk tersenyum.
                Selain mencari ilmu dinegeri orang ini, Shen juga bekerja disebuah perusahaan kecil dan kini ia tengah melamar kerja disebuah perusahaan arsitek. Tinggal di Eropa bersama Shen membuatku sedikit jenuh karena Shen yang selalu sibuk dengan kuliah juga pekerjaannya dan aku dilupakan begitu saja. Aku seperti hidup sebatang kara ditambah lagi dengan kondisiku yang belum memiliki banyak kenalan, rasanya aku ingin segera mempunyai buah hati agar tak lagi merasa kesepian ketika ditinggal Shen sendirian.

“Kamu kenapa?” tanya Shen ketika ia memergokiku tengah menangis dihalaman belakang.
“Enggak” jawabku singkat.
“Jangan bohong Nilam, kenapa?!” tanyanya tegas.
“Enggak” jawabku kedua kalinya.
“Terus kenapa nangis?” tanya Shen dengan nada melemah.
“Aku bosan Shen!! Aku bosan terus diam sendirian dirumah! Kamu gak pernah punya waktu buat aku Shen!!” ucapku sambil menangis.
                Shen mengusap lembut air mataku. Lalu, ia mengajakku pergi ke sebuah tempat yang cukup jauh dari rumah kami. Kopenhagen, aku begitu senang ketika Shen mengajakku ke tempat ini, tempat dimana aku bisa menghirup udara segar disalah satu kota terbersih didunia. Kata Shen, menjelajah Kopenhagen dengan pasangan lebih asik menggunakan sepeda dan disini sepeda merupakan alat transportasi yang diistimewakan. Kami memulai penjelajahan ini dari Taman Raja, disana kami menikmati bunga-bunga yang tumbuh dimusim semi. Lalu kami menikmati opera di Gedung Opera Kopenhagen, “Aaah Shen, aku teringat Bali” ucapku manja sembari menyandarkan kepalaku dipundak Shen. Puas sekali rasanya setelah menikmati pemandangan bunga yang bermekaran dengan pola-pola yang menawan juga menikmati pertunjukan opera dan menjelajah tempat indah lainnya.
“Kita makan malam disini aja yah” ajak Shen sambil tersenyum.
“Disini dimana?” tanyaku heran karena tak terlihat sebuah restoran ditempat ini.
                Shen menarik tanganku lalu kami berjalan menyusuri kawasan yang ramai, meskipun udara disini sangat dingin namun rasanya begitu hangat jika aku terus berada disamping Shen. Kini kami berdua tengah duduk menanti pesanan disebuah restoran terbaik yang pernah kutemui “Aaah Shen, I’m so glad to be yours!”.

                Pukpukpuk, sebuah tangan menepuk lembut pipiku. “Kamu mimpi apa? Pake senyum-senyum segala? terus tadi bilang apa? sekali lagi dong, hehehe” Aku mengucek mata dan sontak terkejut melihat Shen pulang dan tiba-tiba menertawaiku, “Aaaaarrrgh Shen! Mimpiku barusan indah banget tau gak? Kenapa mesti dibangunin sih? Aaaah Shen” keluhku sambil memukul Shen berkali-kali. Aku membangunkanmu biar mimpi kamu jadi kenyataan, ucap Shen disusul dengan sebuah pelukan hangat.

Catatan ini diikutsertakan dalam lomba http://www.rheinfathia.com/2013/05/lomba-menulis-resensi-fanfiction.html

Resensi Novel Seven Days

Ghina Zakia Nurjaman


Oleh                      : Ghina Zakia Nurjaman
Judul Resensi     : Pada Akhirnya Hiduplah yang Mengharuskan Memilih
Judul Novel        : Seven Days Tujuh Hari Bersamamu
Pengarang          : Rhein Fathia
Penerbit              : PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit      : Februari, 2013
Tebal                     : 294 Halaman
ISBN                      : 978-602-9225-72-3
Genre                   : Romance
Kategori               : Fiksi
Harga                    : Rp 49.000,-


               Resensi Novel Seven Days tujuh hari bersamamu karya Rhein Fathia ini merupakan novel yang menceritakan kisah seorang gadis berumur 25 tahun yang terjebak dalam cinta segitiga. Novel ini ialah novel pemenang pertama dalam lomba penulisan Romance Qanita.
                Alnilam Rahma Soeminta yang kerap kali disapa Nilam oleh sahabat kecilnya Shen Luthfi Ardiwinata, ialah gadis berumur 25 tahun yang bekerja disebuah perusahaan desain sedangkan Shen sendiri bekerja disebuah proyek arsitektur. Mereka berdua merupakan sahabat sejak kecil dan keduanya mempunyai kesamaan yaitu pecinta lukisan dan langit. Bahkan, nama mereka itu diambil dari sebuah rasi bintang Orion.
                Karena hubungan keduanya yang begitu dekat, Nilam selalu mengikutsertakan Shen dalam setiap langkah hidupnya, termasuk dalam urusan cinta. Shen paling tahu pria-pria mana yang pernah mampir dalam hidup Nilam termasuk pria pemilik nama Reza yang saat ini tengah menjadi kekasih Nilam, bahkan telah melamarnya namun Nilam belum juga memberinya jawaban.
                Untuk ukuran seorang kekasih, Reza merupakan sosok yang teramat ideal. Tampan, sopan, pekerja keras, sabar dan tidak posesif. Hal inilah yang membuat Nilam luluh dan jatuh cinta padanya. Walaupun hubungan keduanya terhalang jarak yang cukup jauh, namun dengan menjaga kepercayaan dan kesetiaan, hubungan mereka berjalan baik selama kurang lebih 3 tahun lamanya.
                “Kita ke Bali bulan depan, gimana?” Nilam mendongak, menatap sepasang mata berbinar milik Shen yang duduk dihadapannya sambil mengunyah siomay sebagai camilan sore hari. Ajakan sahabat kecilnya itu membuat Nilam bingung, ditambah lagi Shen yang menatapnya serius dan berkata “Kita ke Bali berdua saja, selama satu minggu. Anggap aja ini acara jalan-jalan terakhir kita berdua sebelum kamu dimiliki sepenuhnya oleh Reza.” Dia diam sejenak memberi jeda. “Aku berharap, disana kita juga bisa mengambil keputusan tepat mengenai perasaan masing-masing.”
                Malam ini Shen dan Nilam tengah sibuk berkemas untuk keberangkatan keduanya ke Pulau Dewata setelah urusan booking tiket, izin ke Ayah dan Ibu, pesan kendaraan selama di Bali termasuk izin dari Reza, sudah ditangani oleh Shen selama satu bulan belakangan ini.
                Waktu menunjukkan pukul 12 malam waktu Bali. Pertama kalinya menjejakkan kaki di Bandara Ngurah Rai membuat Nilam takjub dan senang bukan main. Ketika itu juga Shen mengajaknya ke penginapan yang sudah dipesan beberapa hari yang lalu. Namun, detik itu juga masalah mulai muncul ketika kamar yang tersisa hanya satu. Shen mendesah pelan sembari memasang raut wajah kesal dan rasa bersalah ketika sahabat cantiknya itu mengernyitkan kening heran. Alhasil, malam itu juga mereka tidur satu kamar yang kebetulan kasurnya ada dua dan terpisah.
                Tidur satu kamar dengan Shen sudah sering mereka lakukan, dulu. Kini keduanya sudah dewasa. Apa kata Ayah dan Ibu nanti? Bagaimana kalau Reza tahu? Stereotip “gadis nakal” pasti melekat padaku nantinya, meski kami berdua tidak melakukan apa-apa. Baru sampai di Bali saja sudah muncul aroma perselingkuhan, pikirnya.
                “Masalah apalagi yang akan menimpa keduanya? Ataukah perjalanan mereka membuahkan kenangan yang membekas? Dan apa maksud Shen mengajak sahabat kecilnya ke Pulau Dewata? Hmm kira-kira, akhirnya Nilam memilih siapa yah?” Rasanya saya tidak perlu membeberkan semua jalan ceritanya disini, karena lebih asik, lebih menengangkan dan bahkan menyedihkan jika kita membacanya sendiri, halaman demi halaman.
                Dalam novelnya ini Rhein menyuguhkan berbagai bumbu pelengkap sehingga pembaca tidak jenuh dan dibuat penasaran untuk membuka lembaran lembaran selanjutnya. Rhein juga menggambarkan latar dan tokohnya seolah-olah kejadian tersebut merupakan pengalamannya sendiri. Novel yang bertemakan cinta ini sangat cocok dibaca oleh kalangan remaja. Selain itu novel ini memberi gambaran bagaimana keadaan Pulau Dewata yang sangat indah dengan penduduknya yang ramah dan sangat menghormati adat yang berlaku.

"Sering kali kita dibuat bimbang oleh pertanyaan, siapa yang kita cintai sebenarnya? sosok yang selalu hadir menemani atau sejatinya dipilih oleh hati? bagiku, keduanya tetap cinta. Cinta tidak pernah memaksa kita untuk memilih, hiduplah yang mengharuskan untuk memilih. Termasuk memilih, kita ingin hidup dengan siapa." - Nilam

Catatan ini diikutsertakan dalam http://www.rheinfathia.com/2013/05/lomba-menulis-resensi-fanfiction.html