Syarat
dan Ketentuan: 1. Kompetisi ini terbuka untuk semua
orang. 2. Naskah asli, tidak menyadur dan
belum pernah dipublikasikan di media apapun. 3. Format penulisan: 5-10 halaman.
Spasi 1,5, Times New Roman 12, A4. Margin 3-3-3-3. File: .doc atau
.docx. 4. Tema : Kisah Cinta
Remaja 5. Boleh mengirimkan naskah lebih
dari
satu. 6. EYD sangat diutamakan. Juga
diharapkan agar cerita tidak klise. 7. Tulis biodata di bawah naskah berupa: Nama
Lengkap: Nama
Pena (bila perlu): Facebook: Email: Alamat
Lengkap: Nomer
Telepon : 8. Kirim naskahmu ke coauthorsind@gmail.com. 9. Format subject email dan file: (JUDUL
NASKAH)
- (NAMA PESERTA) 10. Naskah paling lambat diterima
pada
tanggal 30 Juni 2013 pukul 23:59 WIB.
Kami akan memilih 15 naskah
terbaik
untuk diproses menuju penerbit Mayor. Pengumuman pemenang pada tanggal 28
Juli
2013. Peserta diharapkan memfollow atau
mengikuti blog Community of Authors Indonesian
(coauthorsindo.blogspot.com),
dan menyebarkan luaskan info seleksi ini.Masing-masing pemenang akan
mendapat
bukti terbit, dll.
“Selamat pagi sayang..” sambutku ketika Shen baru saja beranjak dari
tempat tidur. Ya, seminggu yang lalu aku dan Shen terbang ke Eropa
setelah semua acara pernikahan kami berjalan lancar dengan konsep yang
tidak terlalu mewah sehingga terkesan elegan. Aku yang waktu itu memakai
kebaya putih dengan rambut tersanggul rapi, berdiri disamping Shen
menyambut ramah tamu yang terus berdatangan mengucap selamat kepada
kami. Diantara beratus-ratus bahkan sampai beribu tamu yang datang,
mulai dari temanku, teman-teman Shen dan teman-teman kedua orangtua
kami, ada tamu spesial yang tidak ku duga sebelumnya. Reza menghadiri
acara pernikahanku, ia menggandeng seorang wanita cantik yang tidak lain
ialah kekasih barunya setelah hubungan kami berakhir 6 bulan silam.
Sembari tersenyum lebar, Reza menyalamiku dan mengucapkan selamat
kepada kami. Sementara kekasihnya hanya melirikku tanpa memberi salam
bahkan tak terlihat seulas senyum diwajahnya. Sombong sekali pacar
barunya ini, ucapku dalam hati.
“Selamat
menempuh hidup baru ya Nilam, semoga hubungan kalian langgeng. Doakan
aku cepet nyusul yaa hehehe” ucapnya sembari tertawa kecil “aku senang
melihatmu bahagia Nilam” lanjutnya lirih. Aku dan Shen segera
mengamininya, kemudian Shen mengajak kami berempat untuk mencicipi
makanan. Sambil mengunyah sesuap nasi, kami berbagi cerita dengan penuh
tawa bahagia. Jika waktu itu aku gak berangkat ke Bali bareng Shen,
mungkin pria yang bersandang denganku dipelaminan ialah sosok pria yang
kini tepat dihadapanku. Maafin aku Za! Pikirku tak karuan.
***
“Sayang, aku berangkat duluan yaa, kayaknya
hari ini aku pulang agak telat. Kalau mau keluar rumah, jangan lupa
kabarin aku yah!” ucap Shen sembari mencium keningku. Aku yang tengah
duduk ditepi kasur mengangguk tersenyum.
Selain
mencari ilmu dinegeri orang ini, Shen juga bekerja disebuah perusahaan
kecil dan kini ia tengah melamar kerja disebuah perusahaan arsitek.
Tinggal di Eropa bersama Shen membuatku sedikit jenuh karena Shen yang
selalu sibuk dengan kuliah juga pekerjaannya dan aku dilupakan begitu
saja. Aku seperti hidup sebatang kara ditambah lagi dengan kondisiku
yang belum memiliki banyak kenalan, rasanya aku ingin segera mempunyai
buah hati agar tak lagi merasa kesepian ketika ditinggal Shen sendirian.
“Kamu
kenapa?” tanya Shen ketika ia memergokiku tengah menangis dihalaman
belakang.
“Enggak” jawabku singkat.
“Jangan bohong Nilam,
kenapa?!” tanyanya tegas.
“Enggak” jawabku kedua kalinya.
“Terus
kenapa nangis?” tanya Shen dengan nada melemah.
“Aku bosan Shen!!
Aku bosan terus diam sendirian dirumah! Kamu gak pernah punya waktu
buat aku Shen!!” ucapku sambil menangis.
Shen
mengusap lembut air mataku. Lalu, ia mengajakku pergi ke sebuah tempat
yang cukup jauh dari rumah kami. Kopenhagen, aku begitu senang ketika
Shen mengajakku ke tempat ini, tempat dimana aku bisa menghirup udara
segar disalah satu kota terbersih didunia. Kata Shen, menjelajah
Kopenhagen dengan pasangan lebih asik menggunakan sepeda dan disini
sepeda merupakan alat transportasi yang diistimewakan. Kami memulai
penjelajahan ini dari Taman Raja, disana kami menikmati bunga-bunga yang
tumbuh dimusim semi. Lalu kami menikmati opera di Gedung Opera
Kopenhagen, “Aaah Shen, aku teringat Bali” ucapku manja sembari
menyandarkan kepalaku dipundak Shen. Puas sekali rasanya setelah
menikmati pemandangan bunga yang bermekaran dengan pola-pola yang
menawan juga menikmati pertunjukan opera dan menjelajah tempat indah
lainnya.
“Kita makan malam disini aja yah” ajak Shen sambil
tersenyum.
“Disini dimana?” tanyaku heran karena tak terlihat
sebuah restoran ditempat ini.
Shen menarik
tanganku lalu kami berjalan menyusuri kawasan yang ramai, meskipun udara
disini sangat dingin namun rasanya begitu hangat jika aku terus berada
disamping Shen. Kini kami berdua tengah duduk menanti pesanan disebuah
restoran terbaik yang pernah kutemui “Aaah Shen, I’m so glad to be
yours!”.
Pukpukpuk, sebuah tangan menepuk lembut pipiku. “Kamu mimpi apa? Pake
senyum-senyum segala? terus tadi bilang apa? sekali lagi dong, hehehe”
Aku mengucek mata dan sontak terkejut melihat Shen pulang dan tiba-tiba
menertawaiku, “Aaaaarrrgh Shen! Mimpiku barusan indah banget tau gak?
Kenapa mesti dibangunin sih? Aaaah Shen” keluhku sambil memukul Shen
berkali-kali. Aku membangunkanmu biar mimpi kamu jadi kenyataan,
ucap Shen disusul dengan sebuah pelukan hangat.
Judul Resensi:
Pada Akhirnya Hiduplah yang Mengharuskan Memilih
Judul Novel:
Seven Days Tujuh Hari Bersamamu
Pengarang:
Rhein Fathia
Penerbit:
PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit:
Februari, 2013
Tebal :
294 Halaman
ISBN:
978-602-9225-72-3
Genre:
Romance
Kategori:
Fiksi
Harga:
Rp 49.000,-
Resensi Novel Seven Days tujuh hari
bersamamu karya Rhein Fathia ini merupakan novel yang menceritakan kisah
seorang gadis berumur 25 tahun yang terjebak dalam cinta segitiga. Novel ini
ialah novel pemenang pertama dalam lomba penulisan Romance Qanita.
Alnilam
Rahma Soeminta yang kerap kali disapa Nilam oleh sahabat kecilnya Shen Luthfi
Ardiwinata, ialah gadis berumur 25 tahun yang bekerja disebuah perusahaan
desain sedangkan Shen sendiri bekerja disebuah proyek arsitektur. Mereka berdua
merupakan sahabat sejak kecil dan keduanya mempunyai kesamaan yaitu pecinta
lukisan dan langit. Bahkan, nama mereka itu diambil dari sebuah rasi bintang
Orion.
Karena
hubungan keduanya yang begitu dekat, Nilam selalu mengikutsertakan Shen dalam
setiap langkah hidupnya, termasuk dalam urusan cinta. Shen paling tahu
pria-pria mana yang pernah mampir dalam hidup Nilam termasuk pria pemilik nama
Reza yang saat ini tengah menjadi kekasih Nilam, bahkan telah melamarnya namun
Nilam belum juga memberinya jawaban.
Untuk
ukuran seorang kekasih, Reza merupakan sosok yang teramat ideal. Tampan, sopan,
pekerja keras, sabar dan tidak posesif. Hal inilah yang membuat Nilam luluh dan
jatuh cinta padanya. Walaupun hubungan keduanya terhalang jarak yang cukup
jauh, namun dengan menjaga kepercayaan dan kesetiaan, hubungan mereka berjalan
baik selama kurang lebih 3 tahun lamanya.
“Kita
ke Bali bulan depan, gimana?” Nilam mendongak, menatap sepasang mata berbinar
milik Shen yang duduk dihadapannya sambil mengunyah siomay sebagai camilan sore
hari. Ajakan sahabat kecilnya itu membuat Nilam bingung, ditambah lagi Shen
yang menatapnya serius dan berkata “Kita ke Bali berdua saja, selama satu
minggu. Anggap aja ini acara jalan-jalan terakhir kita berdua sebelum kamu
dimiliki sepenuhnya oleh Reza.” Dia diam sejenak memberi jeda. “Aku berharap,
disana kita juga bisa mengambil keputusan tepat mengenai perasaan
masing-masing.”
Malam
ini Shen dan Nilam tengah sibuk berkemas untuk keberangkatan keduanya ke Pulau
Dewata setelah urusan booking tiket,
izin ke Ayah dan Ibu, pesan kendaraan selama di Bali termasuk izin dari Reza,
sudah ditangani oleh Shen selama satu bulan belakangan ini.
Waktu
menunjukkan pukul 12 malam waktu Bali. Pertama kalinya menjejakkan kaki di
Bandara Ngurah Rai membuat Nilam takjub dan senang bukan main. Ketika itu juga
Shen mengajaknya ke penginapan yang sudah dipesan beberapa hari yang lalu.
Namun, detik itu juga masalah mulai muncul ketika kamar yang tersisa hanya
satu. Shen mendesah pelan sembari memasang raut wajah kesal dan rasa bersalah
ketika sahabat cantiknya itu mengernyitkan kening heran. Alhasil, malam itu
juga mereka tidur satu kamar yang kebetulan kasurnya ada dua dan terpisah.
Tidur
satu kamar dengan Shen sudah sering mereka lakukan, dulu. Kini keduanya sudah
dewasa. Apa kata Ayah dan Ibu nanti?
Bagaimana kalau Reza tahu? Stereotip “gadis nakal” pasti melekat padaku
nantinya, meski kami berdua tidak melakukan apa-apa. Baru sampai di Bali saja sudah muncul aroma perselingkuhan, pikirnya.
“Masalah
apalagi yang akan menimpa keduanya? Ataukah perjalanan mereka membuahkan
kenangan yang membekas? Dan apa maksud Shen mengajak sahabat kecilnya ke Pulau
Dewata? Hmm kira-kira, akhirnya Nilam memilih siapa yah?” Rasanya saya tidak
perlu membeberkan semua jalan ceritanya disini, karena lebih asik, lebih menengangkan
dan bahkan menyedihkan jika kita membacanya sendiri, halaman demi halaman.
Dalam
novelnya ini Rhein menyuguhkan berbagai bumbu pelengkap sehingga pembaca tidak
jenuh dan dibuat penasaran untuk membuka lembaran lembaran selanjutnya. Rhein
juga menggambarkan latar dan tokohnya seolah-olah kejadian tersebut merupakan
pengalamannya sendiri. Novel yang bertemakan cinta ini sangat cocok dibaca oleh
kalangan remaja. Selain itu novel ini memberi gambaran bagaimana keadaan Pulau
Dewata yang sangat indah dengan penduduknya yang ramah dan sangat menghormati
adat yang berlaku.
"Sering kali kita dibuat bimbang oleh pertanyaan, siapa yang kita cintai sebenarnya? sosok yang selalu hadir menemani atau sejatinya dipilih oleh hati? bagiku, keduanya tetap cinta. Cinta tidak pernah memaksa kita untuk memilih, hiduplah yang mengharuskan untuk memilih. Termasuk memilih, kita ingin hidup dengan siapa." - Nilam