Kamis, 30 Mei 2013

Fan Fiction Novel Seven Days

 
                “Selamat pagi sayang..” sambutku ketika Shen baru saja beranjak dari tempat tidur. Ya, seminggu yang lalu aku dan Shen terbang ke Eropa setelah semua acara pernikahan kami berjalan lancar dengan konsep yang tidak terlalu mewah sehingga terkesan elegan. Aku yang waktu itu memakai kebaya putih dengan rambut tersanggul rapi, berdiri disamping Shen menyambut ramah tamu yang terus berdatangan mengucap selamat kepada kami. Diantara beratus-ratus bahkan sampai beribu tamu yang datang, mulai dari temanku, teman-teman Shen dan teman-teman kedua orangtua kami, ada tamu spesial yang tidak ku duga sebelumnya. Reza menghadiri acara pernikahanku, ia menggandeng seorang wanita cantik yang tidak lain ialah kekasih barunya setelah hubungan kami berakhir 6 bulan silam.
                Sembari tersenyum lebar, Reza menyalamiku dan mengucapkan selamat kepada kami. Sementara kekasihnya hanya melirikku tanpa memberi salam bahkan tak terlihat seulas senyum diwajahnya. Sombong sekali pacar barunya ini, ucapku dalam hati.
                “Selamat menempuh hidup baru ya Nilam, semoga hubungan kalian langgeng. Doakan aku cepet nyusul yaa hehehe” ucapnya sembari tertawa kecil “aku senang melihatmu bahagia Nilam” lanjutnya lirih. Aku dan Shen segera mengamininya, kemudian Shen mengajak kami berempat untuk mencicipi makanan. Sambil mengunyah sesuap nasi, kami berbagi cerita dengan penuh tawa bahagia. Jika waktu itu aku gak berangkat ke Bali bareng Shen, mungkin pria yang bersandang denganku dipelaminan ialah sosok pria yang kini tepat dihadapanku. Maafin aku Za! Pikirku tak karuan.
                                                                              ***
                “Sayang, aku berangkat duluan yaa, kayaknya hari ini aku pulang agak telat. Kalau mau keluar rumah, jangan lupa kabarin aku yah!” ucap Shen sembari mencium keningku. Aku yang tengah duduk ditepi kasur mengangguk tersenyum.
                Selain mencari ilmu dinegeri orang ini, Shen juga bekerja disebuah perusahaan kecil dan kini ia tengah melamar kerja disebuah perusahaan arsitek. Tinggal di Eropa bersama Shen membuatku sedikit jenuh karena Shen yang selalu sibuk dengan kuliah juga pekerjaannya dan aku dilupakan begitu saja. Aku seperti hidup sebatang kara ditambah lagi dengan kondisiku yang belum memiliki banyak kenalan, rasanya aku ingin segera mempunyai buah hati agar tak lagi merasa kesepian ketika ditinggal Shen sendirian.

“Kamu kenapa?” tanya Shen ketika ia memergokiku tengah menangis dihalaman belakang.
“Enggak” jawabku singkat.
“Jangan bohong Nilam, kenapa?!” tanyanya tegas.
“Enggak” jawabku kedua kalinya.
“Terus kenapa nangis?” tanya Shen dengan nada melemah.
“Aku bosan Shen!! Aku bosan terus diam sendirian dirumah! Kamu gak pernah punya waktu buat aku Shen!!” ucapku sambil menangis.
                Shen mengusap lembut air mataku. Lalu, ia mengajakku pergi ke sebuah tempat yang cukup jauh dari rumah kami. Kopenhagen, aku begitu senang ketika Shen mengajakku ke tempat ini, tempat dimana aku bisa menghirup udara segar disalah satu kota terbersih didunia. Kata Shen, menjelajah Kopenhagen dengan pasangan lebih asik menggunakan sepeda dan disini sepeda merupakan alat transportasi yang diistimewakan. Kami memulai penjelajahan ini dari Taman Raja, disana kami menikmati bunga-bunga yang tumbuh dimusim semi. Lalu kami menikmati opera di Gedung Opera Kopenhagen, “Aaah Shen, aku teringat Bali” ucapku manja sembari menyandarkan kepalaku dipundak Shen. Puas sekali rasanya setelah menikmati pemandangan bunga yang bermekaran dengan pola-pola yang menawan juga menikmati pertunjukan opera dan menjelajah tempat indah lainnya.
“Kita makan malam disini aja yah” ajak Shen sambil tersenyum.
“Disini dimana?” tanyaku heran karena tak terlihat sebuah restoran ditempat ini.
                Shen menarik tanganku lalu kami berjalan menyusuri kawasan yang ramai, meskipun udara disini sangat dingin namun rasanya begitu hangat jika aku terus berada disamping Shen. Kini kami berdua tengah duduk menanti pesanan disebuah restoran terbaik yang pernah kutemui “Aaah Shen, I’m so glad to be yours!”.

                Pukpukpuk, sebuah tangan menepuk lembut pipiku. “Kamu mimpi apa? Pake senyum-senyum segala? terus tadi bilang apa? sekali lagi dong, hehehe” Aku mengucek mata dan sontak terkejut melihat Shen pulang dan tiba-tiba menertawaiku, “Aaaaarrrgh Shen! Mimpiku barusan indah banget tau gak? Kenapa mesti dibangunin sih? Aaaah Shen” keluhku sambil memukul Shen berkali-kali. Aku membangunkanmu biar mimpi kamu jadi kenyataan, ucap Shen disusul dengan sebuah pelukan hangat.

Catatan ini diikutsertakan dalam lomba http://www.rheinfathia.com/2013/05/lomba-menulis-resensi-fanfiction.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar